Back to basic.
Kayaknya euphoria akan hal-hal berbau budaya memang lagi kenceng. Cipete vaganza ini misalnya. Satu-satunya yang membuatku tertarik untuk mengunjungi festival ini adalah adanya kata-kata ‘festivalnya budaya betawi”. Festival betawi ini digelar selama dua hari, Sabtu – Minggu, 26-27 Juli 2008. Menariknya lagi festival ini menutup sepanjang Jl. Cipete Raya selama berlangsungnya acara. Sounds good nih festival.
Benar saja, bahkan di hari kedua, Minggu (27/7), animo pengunjung masih tinggi. Dari kalangan bawah, menengah, menengah atas sampai ekspatriat tumplek di sini. Dari komunitas pecinta budaya, fotografi, moge (motor gede) juga ada.
Sepertinya ketertarikan mereka sama denganku. Sama-sama terpesona dengan sihir dari kata-kata ‘budaya betawi’. Kata penyelenggaranya yang notabene Pemprov DKI Jakarta Raya, tujuan Cipete Vaganza yaitu untuk melestarikan budaya betawi dan menjelang kemerdekaan Indonesia. Oya, sekaligus tujuan wisata Visit Indonesia Year 2008. Untuk menegaskan kesan pelestarian budaya Betawi itu, terpasang ornamen-ornamen Betawi.
Dari pintu gerbang ada sepasang Ondel-ondel, delman, mobil kuno, pedagang kerak telor, es cincau, kue pancong, kue rangi. Kira-kira perwakilan budaya Betawi ini menghias Jl. Cipete sepanjang sekitar 100 meter. Selebihnya, hanya deretan pedagang ‘gado-gado’. Maksudnya, peserta bazaar yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pelestarian budaya Betawi. Ada pedagang baju, boneka, batik, makanan khas daerah Jogja, Solo, pempek dan mochi-mochi juga ada. Peserta bazar ini berbaris hingga ujung jalan Cipetee Raya. Tidak heran kalo sepanjang Jl. Cipete Raya harus ditutup selama festival berlangsung dua hari, dari jam 06.00 – 23.00.
Jadi Jl. Cipete Raya itu bukan ditutup karena banyak kegiatan budaya Betawi yang akan digelar tapi karena banyak peserta bazaar yang mengais rezeki alias jualan. Yah, gak salah juga sih. Tapi cukup membuat saya menyesal karena berharap terlalu banyak dari festival ini. Minimal dapat oleh-oleh menarik dari Betawi. Mau belanja di vaganza ini? yah, gak lah… bisa beli di mal-mal seantero Jakarta. Atau, foto Cipetevaganza yang berkesan? wah, gak ada deh! Gak beda dengan pasar kaget yang sering digelar di Bintaro sektor 9 -sekarang udah tutup.
Ow..ow..ow…
Lantas, kenapa memasang Tag : Melestarikan budaya betawi? Jawabnya ada pada malam 26 Juli 2008. Pada malam tersebut, beberapa kesenian Betawi digelar di panggung itu. That’s all… Selebihnya, yah banyakan peserta bazar itu.
Dengan animo pengunjung yang begitu tinggi dan kesempatan menanamkan cinta budaya daerah sendiri kayaknya sayang banget ya. Apalagi dengan tujuan wisata Visit Indonesia Year 2008, malahan yang diperkenalkan bukannya kebudayaan Betawi tapi, kebiasaan konsumtif masyarakat DKI Jakarta. Belanja-belinji!!!